Postingan

Menampilkan postingan dengan label 6. Sundaland

"Bapak" Austronesia Indonesia Kunjungi Situs Arkeologi Loyang Mendale Takengon

Gambar
"Bapak" Austronesia Indonesia Kunjungi Situs Arkeologi Loyang Mendale Takengon "Bapak" Austronesia Indonesia Kunjungi Situs Arkeologi Loyang Mendale Takengon "Bapak" Austronesia Indonesia Kunjungi Situs Arkeologi Loyang Mendale Takengon KBRN, Takengon : Tim Pusat Arkeologi Nasional melakukan Kunjungan Ke Takengon Aceh Tengah    pada 16 sd 17 juni 2015. Kunjungan dalam rangka melihat secara langsung situs arkeologi di Loyang Mendale dan Ujung Karang, Aceh Tengah, yang   diteliti   oleh seorang arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Sumatera Utara. Peneliti dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana kepada mmengungkapkan, tujuan dari Tim Arkeologi Nasional ke Takengon selain melihat secara langsung situs arkeologi di Loyang Mendale dan Ujung Karang, Aceh Tengah, juga dalam konteks penelitian serta membicarakan tindak lanjut kerjasama penelitian dengan Pemerintah Daerah. “Jadi beliau datang dalam rangka penenelitian dan juga dalam kontek...

Kapuslit Arkeologi Takjub di Loyang Mendale

Gambar
Kapuslit Arkeologi Takjub di Loyang Mendale June 17, 2015 Kapuslit Arkeologi Nasional, I. Made Griya di Loyang Mendale Takengon. (LGco_Khalis) Takengon-LintasGayo.co :  Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit) Arkeologi Nasional, Drs. I Made Griya, M.Si, mengatakan penemuan artefak dan budaya manusia prasejarah di Situs Loyang Mendale dan Ujung Karang, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah akan menjadi situs besar. “Saya yakin ini akan menjadi situs besar. Bisa dilihat dari lokasi penelitian dan penemuan artefak nya. Walau belum bisa dikatakan sebagai situs besar untuk saat ini, namun tanda-tanda mengarah kesitu sudah ada,” kata I Made Griya, saat berkunjung ke Loyang Mendale, Selasa 16 Juni 2015. Dia mengaku takjub melihat temuan arkeologi di Takengon, Aceh Tengah. “Bisa saya katakan temuan disini sangat luar biasa. Dekat kota malah, tidak seperti situs-situs yang kami teliti di daerah lain, jaraknya sangat jauh, namun karena dukungan semua pihak sit...

Garis Wallace Makin Dipertegas

Garis Wallace Makin Dipertegas Bahasa Diturunkan Melalui Garis Ibu JAKARTA, KOMPAS — Garis Wallace tidak hanya memisahkan jenis flora dan fauna di Indonesia dengan yang ada di Asia atau Australia, tetapi juga menunjukkan dimulainya percampuran genetika manusia serta rumpun bahasa, antara Austronesia dan Papua. Garis imajiner itu terbentang mulai dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Guru Besar Emeritus Antropologi Universitas Arizona Amerika Serikat John Stephen Lansing, di Jakarta, Rabu (26/11), mengatakan, masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, memiliki campuran genetika manusia Austronesia dan Papua. Makin ke timur dari Sumba, yaitu Flores, Lembata, dan Alor, bagian genetika Papua makin besar. Sumba terletak di dekat garis Wallace di sisi timur. Manusia Nusantara di barat garis, seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera, memiliki genetika Austronesia. Di sisi timur garis Wallace terjadi percampuran genetika Austronesia dan Papua. G...

Jejak Penutur Austronesia Ditemukan Lagi di Rembang

Jejak Penutur Austronesia Ditemukan Lagi di Rembang KOMPAS.com   - Kerangka manusia prasejarah kembali ditemukan di Desa Binangun, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Penemuan itu menguatkan dugaan bahwa pantai utara Jawa merupakan salah satu tujuan migrasi penutur Austronesia pada periode 500 sebelum Masehi atau sekitar 2.500 tahun lalu. Penemuan kerangka itu dilaporkan warga setempat, Sabtu (16/8/2014), kepada Kepolisian Sektor Lasem. Sehari kemudian, Polres Lasem menghubungi Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta. Kerangka hanya tersisa bagian pinggul ke atas, sedangkan bagian pinggul ke bawah sudah hanyut ke laut. Sementara itu bagian rahang terpisah dari tengkorak, begitu pula gigi-giginya. ”Senin pagi, kami berkoordinasi dengan Kepala Balar Yogyakarta untuk menyelamatkan kerangka itu,” kata peneliti Balar Yogyakarta, Gunadi Kasnowiharjo, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (21/8/2014). Kerangka harus segera diselamatkan karena berada di pinggir pantai yang rawan abra...

Asal usul bangsa Austronesia

Asal usul bangsa Austronesia Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu [[genetika]] memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang [[ilmu sejarah bahasa]], bangsa Austronesia berasal dari [[Taiwan]] karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia <ref>Blust, R. (1999). "Subgrouping, circularity and extinction: some issues in Austronesian comparative linguistics" in E. Zeitoun & P.J.K Li (Ed.) 'Selected papers from the Eighth International Conf...

Guru Besar Univ Hamburg: Indonesia Harus Punya Pakar Eropa dan Asia

Medan  - Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia harus berkembang lebih pesat untuk mencitrakan Indonesia lebih baik di luar negeri. Sudah semestinya PT Indonesia memiliki pusat kajian luar negeri seperti Eropa dan Asia, jadi tidak hanya meneliti dirinya sendiri. Pandangan ini disampaikan Prof Jan van der Putten, Guru Besar Sastra dan Kebudayaan Austronesia Universitas Hamburg, Jerman. Dia berbicara dalam seminar Tersingkirnya Studi Bahasa dan Karya Sastra Indonesia di Luar Negeri, yang berlangsung Rabu (10/9/2014) di Universitas Negeri Medan (Unimed), Sumatera Utara. "Indonesia jangan hanya melihat dirinya sendiri. Bagaimana mau tahu luar negeri? Seharusnya ada pakar Eropa, pakar Asia di sini. Bagaimana mau mencitrakan diri ke luar negeri kalau tidak memahami," kata Jan. Situasinya selama ini, kata Jan, jika berhubungan dengan upaya memahami negara luar, pemerintah mengandalkan para diplomatnya yang ada di luar negeri. Masalahnya, apa yang dilihat Jan d...

AUSTRONESIA dan KEBUDAYAAN SUNDA KUNOS

Gambar
AUSTRONESIA dan KEBUDAYAAN SUNDA KUNO S Kebudayaan senantiasa berubah, mengalami dinamikanya sendiri, kebudayaan juga dapatdi umpamakan seperti organisme, ada masa kelahiran, perkembangan, menyusut, dan punah. Dapat juga kebudayaan itu setelah kelahirannya lalu berkembang terus hingga sekarang, tetapi suatu waktu nanti niscaya akan digantikan dengan bentuk-bentuk baru, suatu bentuk yang menyesuaikan keadaan zamannya.  Di wilayah Asia Tenggara daratan dan kepulauan dalam masa prasejarah pernah berkembang suatu kebudayaan yang didukung secara luas oleh penduduk yang mendiami kawasan tersebut hingga Madagaskar, dan kepulauan di Pasifik Selatan, para ahli menamakan kebudayan tersebut dengan Austronesia. Para ahli dewasa ini menyatakan bahwa migrasi orang-orang Austronesia kemungkinan terjadi dalam kurun waktu 6000 SM hingga awal tarikh Masehi. Akibat mendapat desakan dari pergerakan bangsa-bangsa di Asia Tengah, orang-orang pengembang kebudayaan Austronesia bermigrasi dan akh...